Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, engkau yang dulu mengisi hari-hariku dengan canda tawa yang mampu membuat aku lupa akan penat dan gundah di hatiku. Engkau yang mengajariku tentang hidup, juga tentang lingkaran cinta dari orang sekelilingku. Engkau juga mengajariku, meski aku wanita, aku tak boleh lemah dan cepat menyerah.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, satu-satunya orang yang mengerti dan percaya padaku, yang membuatku tersenyum menanti hari esok. Seseorang yang membuat aku tak henti-hentinya melirik sang waktu menanti datangnya malam, karena malam adalah waktu favoritku dimana aku dapat bercanda tawa denganmu, walaupun hanya suaramu yang bisa kudengar untuk meredam rinduku.
Kita memang terpisahkan oleh jarak dan waktu tapi rasanya kau ada di dekatku. Tahukah engkau, hanya kaulah yang bisa membuatku bersenandung ria, meski kutau suaraku tak sebagus penyanyi idolaku. Dan tak jarang pula kau bernyanyi untukku hingga tak sadar ku telah jatuh terbuai dalam alam mimpi, karna katamu, kau ingin menemaniku dalam tidurku.
Kemudian, tanpa kabar kau menghilang begitu saja, aku kehilanganmu. Kau tak pernah menghubungiku lagi, dan aku tak tau kemana harus mencarimu. Rasanya separuh jiwaku hilang, bersama lenyapnya keakraban kita. Aku tak lengkap tanpamu, ku tegarkan hatiku dengan pikiran positif, mungkin kau sedang sibuk dengan duniamu.
Setiap kali si ‘mungil’ menari-nari dalam sakuku, aku dengan tak sabar melihatnya berharap itu dari kau. Dan setiap kali itu pula aku kecewa, karena itu bukan kau. Sampai akhirnya aku muak dan lelah berharap, cukup sudah pikirku. Kuberanikan diri menekan tombol hijau dengan nomor tujuan “mama dya”.
Ku dengar tangisan di seberang yang membuatku bingung, ku bertanya pada mamamu, namun jawaban yang aku dengar hanya sebuah tangisan dan suara yang memanggil-manggil namamu. Lalu hubungan terputus, kulihat ternyata layar si mungil menghitam, kusadari baterainya habis. Termangu melihat si mungil dengan perasaan tak menentu, ingin rasanya kakiku segera melangkah meninggalkan kampus dan berlari pulang.
Detik demi detik yang berlalu rasanya bagaikan menunggu setahun, dan akhirnya detik yang aku nanti pun tiba, aku segera berlari menuju kamarku, menyalakan kembali si mungil dan menghubungi mamamu lagi. Kuterima sebuah pesan singkat dari mamamu, “Rio udah gak ada lagi, dia udah pergi….”
Bagaikan disambar petir di siang bolong aku langsung jatuh terkulai, di antara ketidaksadaranku aku mengingat-ingat isi sms dari mamamu. Kukumpulkan kekuatanku untuk menghubungi mamamu, dan aku mendengar tangisan mamamu yang mengatakan kamu sudah tidak ada lagi. Akhirnya aku pun ikut menangis mencurahkan kepedihan dihatiku dengan rasa tidak percaya, karena terakhir kali kita berkomunikasi kamu masih baik-baik saja.
Di kemudian hari aku mengetahui bahwa kau terkena penyakit yang mematikan, jadi itulah alasanmu tidak muncul selama beberapa bulan. Kamu kejam meninggalkanku tanpa kata dan pesan. Hati ini terasa amat pedih kehilanganmu.
Setahun berlalu, hari-hariku sangatlah hampa, aku kehilangan separuh jiwaku, kehilangan separuh nafasku yang telah kau bawa pergi selamanya. Aku melakukan aktivitasku seperti biasa, namun jiwaku terbang entah kemana. Keluargaku dan saudara-saudaraku seakan letih untuk menghiburku namun tak seorang pun yang dapat menahan remuknya hatiku. Aku kehilangan kebahagiaanku, kehilangan dirimu.
Hingga suatu hari aku tersadar, Tuhan menegurku lewat anak kecil yang tersenyum penuh semangat padaku padahal aku tahu dia hidup hanya sebatang kara. Yang berjuang hidup hanya dengan menjual koran keliling. Betapa tidak bersyukurnya aku, betapa lemahnya aku, dan betapa bodohnya aku. Aku egois karena tidak memikirkan orang lain yang juga menyayangiku dan mencemaskanku, dan mungkin kau pun bersedih disana karenanya. Akhirnya aku berlutut dan memohon ampun padaNya, meminta agar aku bisa mengikhlaskan segalanya. Dan Tuhan pun mendengarku, saat itu juga aku disentuh dengan tanganNya yang lembut dan menyembuhkan luka di hatiku.
Hari ini kulepaskan kau dari hatiku, dengan tawa dan bahagia di hati, dengan sebuah doa yang tulus semoga engkau juga bahagia disana, nantikan aku hingga kita bisa bersama-sama lagi. Aku bahagia pernah jadi bagian dari hidupmu, terima kasih pernah memberi warna indah dalam hidupku. Dengan kerelaan di hatiku, aku ikhlas kehilanganmu.